Proses kelahirannya diawali dengan munculnya peristiwa  “Agresi Militer Belanda II” pada tanggal 19 Desember 1948 terhadap Indonesia, yang akhirnya mengakibatkan Ibukota Negara Republik Indonesia yang saat itu berkedudukan di Yogyakarta jatuh ke tangan musuh Karena kalah persenjataan, untuk meneruskan perjuangan mempertahankan kemerdekaan maka tanggal 29 Desember 1948 Panglima Besar Jenderal Sudirman menginstruksikan penggunaan taktik perang gerilya diseluruh pelosok tanah air. Di Jawa Timur, Brigade Hayam Wuruk yang mempunyai batalyon Bambang Yuwono, batalyon Sucipto dan batalyon Mansyur Solichin juga melancarkan gerilya dan wingate-action ke daerah Surabaya, gerakan tersebut pun tak ayal menimbulkan banyak korban

Setelah adanya perjanjian Roem-Royen dan KMB, Panglima Divisi-I Gubernur Militer Jawa Timur Kolonel Soengkono memerintahkan batalyon 107 atau batalyon Djarot atau batalyon Mayangkara untuk menyusup ke kota Surabaya sebelum diadakannya gencatan senjata (cease fire order). Namun setelah gencatan senjata, pihak Belanda mengadakan penangkapan-penangkapan terhadap anggota batalyon Djarot tersebut dan kesatuan lainnya termasuk Mayor Djarot sendiri, kemudian mereka

Anggota batalyon-batalyon yang tersisa menyingkir ke daerah pinggiran sekitar Surabaya dan mengadakan konsolidasi di tepi kota, bersiap-siap mengambil alih kekuasaan daerah-daerah yang akan diserahkan oleh Belanda ke pemerintah Republik Indonesia. Pasca penyerahan kekuasaan, diadakan penataan dan penyusunan kembali organisasi batalyon dan teritorial yang seimbang diseluruh Jawa Timur. Pemerintahan Militer diadakan dengan sebutan Komando Militer Daerah (KMD) dibawah pimpinan komandan brigade, untuk daerah kabupaten diadakan Komando Distrik Militer (KDM) dibawah pimpinan Komandan batalyon setempat, sedangkan tingkat kecamatan diadakan Komando Order Distrik Militer (KODM). Kemudian, penyerahan kekuasaan sipil dari Pemerintahan Militer kepada Pemerintahan Sipil berdasarkan petunjuk-petunjuk tentang pelaksanaan tindakan Pemerintah RI yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan dalam kunjungannya ke GMDT/Divisi-I di Gondang Nganjuk pada tanggal 5 September 1949

Guna memelihara keamanan dan ketertiban akibat masa peralihan di daerah kota Surabaya maka disusunlah organisasi Komando Militer Basis Kota (KMBK) Surabaya yang bermarkas di Jl. Embong Wungu No.2, Mayor Djarot Komandan Batalyon 107 ditunjuk sebagai Komandan KMBK Surabaya yang pertama. Dalam perkembangannya KMBK Surabaya sering berganti Komandan, kemudian berpindah kedudukan di Jl. Jembatan Merah No. 2, selain itu dibentuk sub-sub komando KMBK oleh Mayor CH. Soedjono dengan sebutan Bintara Penghubung Militer Kota (BPMK) yang dijabat oleh seorang pembantu letnan. Pada Pertengahan tahun 1956 nama BPMK diubah menjadi BODM dan KMBK Surabaya dibagi dalam 3 sub komando dengan sebutan Perwira Distrik Militer (PDM) yang membawahi beberapa BODM, selanjutnya BODM diubah menjadi ODM. Berdasarkan Surat Keputusan Pangdam VIII/Brawijaya nomor : KPTS 152/X/1963 tanggal 16 Oktober 1963 tentang pembentukan 3 Korem, 4 Brigade, 31 Kodim, 5 Yonif berdiri sendiri, maka KMBK Surabaya berikut PDM dan ODM mengalami perubahan. KMBK Surabaya menjadi Kodim 0830/Kota Surabaya, PDM 01 s.d 03 dihapus dan ODM-2 menjadi UTTERPRA.

Guna memberikan dasar yang kuat dalam organisasi dan tata kerja, maka dibentuklah Korem-Korem (Tap-10-210 tgl.10-7-1962) dan dihapusnya Resimen-Resimen Infanteri (Kep-152/10/1963 tgl 16-10-1963). Komando Resor Militer (Korem) adalah suatu Organisasi Komando Taktis dalam rangka penyelenggaraan perang wilayah oleh Kodam, yang kekuasaannya meliputi soal-soal Teritorial dan Pertempuran, serta daerahnya meliputi beberapa Komando Distrik Militer (Kodim) guna memudahkan dan menyederhanakan pengendalian oleh Panglima Daerah Militer (Pangdam) terhadap pelaksanaan tugas-tugas Kodam. Korem mempunyai wewenang pelaksanaan pembinaan wilayah (membawahi Kodim-Kodim), serta wewenang pertempuran (membawahi Satuan-Satuan Tempur). Korem sebagai sebagai pelaksana sebagian dari tugas-tugas pokok Kodam di sebagian wilayah Kodam, mempunyai wewenang Komando penuh terhadap Kodim-Kodim dan satuan tempur dalam wilayahnya (Resornya)

Sebagai realisasi Surat Keputusan Pangdam VIII/Brawijaya Nomor : Kep /103/VII/1966, Kotamadya Surabaya ditetapkan menjadi satu Korem dengan kode 084 yang daerah hukumnya meliputi Kodim 0830/Kota Surabaya dengan tugas pokok adalah dalam rangka keamanan/pertahanan nasional, berdasarkan kebijaksanaan serta rencana-rencana pokok Kodam, mempersiapkan dan menyelenggaakan sebagian tugas-tugas keamanan/pertahanan Kodam

Pada tanggal 2-8-1966, diresmikanlah berdirinya Komando Resor Militer 084 dilapangan Tugu Pahlawan Surabaya serta pelantikan Kolonel Willy Soedjono Nrp 10014 sebagai Komandan Korem 084 yang pertama dilakukan oleh Pangdam V/Brawijaya Mayor Jendral Soemitro yag bertindak sebagai Irup

Pada tanggal 2-8-1966, diresmikanlah berdirinya Komando Resor Militer 084 dilapangan Tugu Pahlawan Surabaya serta pelantikan Kolonel Willy Soedjono Nrp 10014 sebagai Komandan Korem 084 yang pertama dilakukan oleh Pangdam V/Brawijaya Mayor Jendral Soemitro yag bertindak sebagai Irup. Kepala Staf Korem 084 adalah Letkol Imam Moenandar. Daerah Korem 084 waktu itu meliputi Kotamadya Surabaya yang terbagi dalam 3 daerah Kodim, terdiri dari Kodim 0830 (Surabaya Utara), Kodim 0831 (Surabaya Tengah),Kodim 0832 (Surabaya Selatan).

Setelah terbentuknya Korem 084, maka diresmikan pula Dhuaja Korem 084 dengan sebutan “Bhaskara Jaya” disahkan dengan Surat Keputusan Pangdam VIII/Brawijaya nomor : Kep-112/8/1966 tanggal1-8-1966 dan Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Darat nomor : Kep-798/8/1966 tanggal 11-8-1966 yang mengandung arti :

– Kegemilangan dalam mencapai cita-cita luhur laksana cemerlangnya sinar matahari.

– Kejayaan yang cemerlang untuk mencapai keluhuan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 Pada tanggal 27-5-1969 berdasarkan Surat Keputusan Pangdam VIII/Brawijaya nomor : Kep-38/II/1969 tanggal 5-5-1969 bertempat di alun-alun Pamekasan dilaksanakan upacara serah terima daerah kekuasaan ex Karesidenan Madura dari Danrem 082 Kolonel Harun Suwardi kepada Danrem 084/Bhaskara Jaya Kolonel Acub Zainal dihadapan Irup Kas Kodam VIII/Brawijaya Brigadir Jenderal Soetarto Sigit. Daerah eks Karesidenan Madura tersebut meliputi Kodim 0826/Pamekasan, Kodim 0827/Sumenep, Kodim 0828/Sampang dan Kodim 0829/Bangkalan, sehingga jumlah Kodim di wilayah Korem 084/Bhaskara Jaya menjadi 7 kodim.

Dalam rangka pemantapan reorganisasi TNI-AD, dengan berbagai pertimbangan strategi den efektivitas Kodal, sesuai dengan Surat Keputusan Pangdam V/Brawijaya No. Skep/03/I/1985 tanggal 24-1-1985, maka Kodim Kodim daerah Madura diserahkan kepada Korem 083/ Baladhika Jaya. Sedangkan Korem 084/Bhaskara Jaya menerima Kodim 0816/Sidoarjo dan Kodim 0817/Gresik dari Korem 082/Citra Panca Yudha Jaya.

Pada tanggal 21-7-1987 dilaksanakan upacara alih status Kodim-Kodim jajaran Kodam V/Brawijaya dengan Irup Pangdam V/Brawijaya. Alih status ini sesuai sesui surat keputusan Pangdam V/Brawijaya nomor Skep/192 /VII/1987 tanggal 15-7-1987. Untuk Korem 084/Bhaskara Jaya menerima kembali 4 Kodim wilayah Madura, sehingga Korem 084/Bhaskara Jaya membawahi 9 Kodim hingga saat ini, antara lain :

– Kodim 0816/Sidoarjo.

– Kodim 0817/Gresik.

– Kodim 0826/Pamekasan.

– Kodim 0827/Sumenep.

– Kodim 0828/Sampang.

– Kodim 0829/Bangkalan.

– Kodim 0830/Surabaya Utara.

– Kodim 0831/Surabaya Timur.

– Kodim 0832/Surabaya Selatan

TUGAS POKOK

Menyesuaikan dengan dinamika perkembangan lingkungan strategis dewasa ini maka dirumuskan suatu tugas pokok Korem 084/Bhaskara Jaya yang dituangkan dalam Peraturan Kasad nomor : Perkasad / 13 / III / 2008 tanggal 28 Maret 2008, yaitu ”menyelenggarakan pembinaan kemampuan, kekuatan dan gelar kekuatan, menyelenggarakan pembinaan teritorial untuk menyiapkan wilayah pertahanan di darat dan menjaga keamanan negara di wilayah Korem 084/Bhaskara Jaya untuk menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara” .

Tugas-Tugas Korem 084/Bhaskara Jaya

Memperhatikan tugas pokok dan kecenderungan perkembangan lingkungan strategis, maka tugas-tugas Korem 084 / Bhaskara Jaya adalah :

  1. Dalam rangka melaksanakan tugas-tugas TNI matra darat dibidang pertahanan :

1) Memelihara dan meningkatkan kemampuan Satintel untuk melaksanakan deteksi dini dan peringatan dini dari setiap gejala kerawanan dan ancaman agar tidak berkembang menjadi ancaman nyata.

2) Membantu dan menyiapkan satuan jajaran Korem 084/Bhaskara Jaya untuk penugasan operasi di daerah rawan konflik dalam rangka membantu kekuatan wilayah yang lain sesuai kebutuhan dan intensitas ancaman.

3) Membantu dan menyiapkan satuan operasional dalam rangka mengatasi pemberontakan bersenjata, gerakan separatisme dan aksi terorisme.

4) Menyiapkan satuan dalam rangka tugas pengamanan Presiden dan Wakil Presiden RI beserta keluarganya serta tamu negara setingkat kepala negara dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di wilayah Korem 084/Bhaskara Jaya.

5) Menyiapkan satuan dalam rangka tugas perbantuan kepada Polri atas permintaan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

6) Menyiapkan dan menyiagakan satuan dalam rangka tugas membantu pemerintah menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian dan pemberian bantuan kemanusiaan serta pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (Search and Rescue).

7) Membantu tugas pemerintah di daerah melalui program Bhakti TNI. b. Dalam rangka melaksanakan tugas-tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra darat: 1) Menyiapkan dan memelihara kemampuan operasional Korem 084 /Bhaskara Jaya yang profesional dengan cara me ningkatkan kemantapan satuan,menata organisasi dan mengembangkan gelar satuan untuk menangkal segala bentuk ancaman. 2) Melanjutkan reformasi Internal dalam tubuh Korem 084 / Bhaskara Jaya yang meliputi aspek struktural, doktrin dan kultural seta hukum dalam upaya membangun jati diri Korem 084 c. Dalam rangka melaksanakan tugas-tugas pemberdayaan wilayah pertahanan di darat :

1) Membantu pemerintah menyiapkan potensi nasional menjadi kekuatan pertahanan di darat yang dipersiapkan secara dini meliputi wilayah pertahanan beserta kekuatan pendukungnya, untuk melaksanakan Operasi Militer untuk Perang (OMP), yang pelaksanaannya didasarkan pada kepentingan pertahanan negara sesuai dengan sistem pertahanan semesta.

2) membantu pemerintah menyelenggarakan pelatihan dasar kemiliteran matra darat secara wajib bagi warga negara sesuai dengan perundang-undangan.

3) membantu pemerintah dalam memberdayakan rakyat sebagai kekuatan pendukung sesuai undang-undang.

Dhuaja Korem 084 “ Bhaskara Jaya “

Arti seloka “ Bhaskara Jaya “

Bhaskara : Matahari, Gemilang.

“ Kegemilangan dalam mencapai cita-cita luhur laksana cemerlang sinar matahari ”

Jaya : Kejayaan, kemenangan.

“ Kejayaan yang cemerlang untuk mencapai keluhuran cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 dan untuk kejayaan keluhuran dan kemakmuran Nusa dan Bangsa”

Dhuaja Korem 084 dilukiskan degan :

  1. Dasar merah darah , jumbai tepi kuning mas.
  2. Gambar bintang bersudut lima warna putih adalah simbol keprajuritan sejati.
  3. Gambar Sura / Hiu berwarna putih yang berdiri melonjak dalam sikap menyerang lawannya diartikan sifat progresif, berani serta tak ragu-ragu menghadapi segala keadaan yang penuh dengan bahaya. Penuh tanggung jawab atas segala tindakan yang diambilnya berdasarkan atas keluhuran budai serta kesucian.
  4. Sisik Sura berjumlah lima dan gigi tujuh buah, melambangkan Sumpah Prajurit dan Sapta Marga.
  5. Lingkaran bunga kapas dan padi, kedua-duanya berwarna kuning. Bunga kapas berjumlah 17 sedang buah padi berjumlah 45 butir gambar garis yang berombak berwarna hitam berjumlah 8, ialah angka-angka yang menunjukkan tanggal bulan dan tahun PROKLAMASI KEMERDEKAAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA 17 Agustus 1945.
  6. Ikat Pinggang berwarna kuning adalah suatu alat serba guna dengan huruf seloka “BHASKARA JAYA” berwarna hitam.
  7. Sinar putih lima yang menyorot gambar Dhuaja, melambangkan ke lima pasal Pancasila.
  8. Lambang BRAWIJAYA disebelah ujung atas kiri Dhuaja melambangkan bahwa Korem 084 / Bhaskara Jaya bernaung dibawah komando Kodam V/Brawijaya.

Arti tata warna Dhuaja :

  1. Merah darah berarti berani.

Yaitu melambangkan keberanian yang dimiliki oleh setiap anggota TNI, pantang mundur dalam melaksanakan segala tugas, mempunyai sikap tegas dalam tindakannya.

  1. Kuning berarti cahaya Kemirahan, kebijaksanaan.

Yaitu warna keluhuran, kebijaksanaan dalam menjalankan segala kewajiban, mahir dalam segi kemiliteran.

  1. Hitam berarti kekal, abadi.

Yaitu warna abadi yang melambangkan pantang mundur dalam melaksanakan tugas.

Kesimpulan Dhuaja Korem 084 ” Bhaskara Jaya ”

  1. Korem 084 yang mempunyai tanggungjawab penguasaan wilayah daerah Kotamadya Surabaya dan sekitarnya akan tetap melaksanakan cita-cita 17 Agustus 1945.
  2. Korem 084 mempunyai kesanggupan yang luar biasa dengan berdasarkan keberanian serta kebijaksanaan dan suci untuk mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, dibawah naungan kemegahan Brawijaya.
  3. Korem 084 bercita-cita luhur serta berketetapan hati dalam mengabdikan diri pada Negara dan Bangsa dalam mencapai keluhuran cita-cita Nusa dan Bangsa dengan berpedoman pada falsafah Pancasila yang bertujuan kearah kejayaan dan kegemilangan Tanah Air Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur.

Pengabdian Korem 084/Bhaskara Jaya Mengawali pengabdian, Korem 084 / Bhaskara Jaya yang mewarisi roh Batalyon 107 “ Djarot “ yang lahir bersamaan dengan awal perjuangan mempertahankan kemerdekaan 17 Agustus 1945 diwarnai dengan dedikasi dan perjuangan yang gagah berani dan pantang menyerah meskipun harus mengorbankan jiwa dan raga. Ikut berperan dalam perang melawan kekuatan Belanda dan sekutu yang melakukan Agresi Militer I dan II terutama di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Setia mengawal perjuangan menegakkan Kemerdekaan selama masa Revolusi Fisik serta dalam penumpasan pemberontakan G.30.S/PKI tahun 1965 khususnya di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Menyiapkan dan mengirimkan satuan tempur Yonif 516/Caraka Yodha yang berada dibawah naungannya dalam berbagai operasi tempur dalam rangka menumpas / mengatasi berbagai pemberontakan maupun pengamanan wilayah konflik di daerah Sulawesi Selatan, Irian Jaya, Timor Timur (Republic National de Timor Leste, kini), Nanggroe Aceh Darussalam dan Ambon / Maluku. Korem 084 / Bhaskara Jaya aktif secara terus menerus mendeteksi dan mencegah dini, mengantisipasi dan mengatasi setiap gejala maupun gejolak sosial yang menyangkut bidang Ideologi, Politik, Sosial Budaya dan Keamanan yang berpotensi menimbulkan instabilitas keamanan dan ketertiban dan mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara, di wilayah tanggung jawabnya melalui operasi intelijen. Satuan Korem 084 / Bhaskara Jaya setiap saat berupaya untuk mampu mengatasi berbagai kemungkinan masuknya pengaruh dan timbulnya tindakan terorisme di wilayah, mengingat Surabaya merupakan pintu gerbang Timur pulau Jawa, baik melalui jalur darat, laut maupun udara. Sebagai Satuan Teritorial, Korem 084/Bhaskara Jaya beserta jajarannya melaksanakan pembinaan teritorial baik dengan metode komunikasi sosial untuk menjalin hubungan yang harmonis ke segenap lapisan komponen masyarakat, menampung aspirasi masyarakat dan mengkomunikasikan program TNI, dengan metode Bhakti TNI dalam rangka membantu pemerintah menjalankan roda pembangunan dan mengatasi bencana alam, serta dengan metode pembinaan perlawanan wilayah dalam rangka menciptakan Ruang, Alat dan Kondisi (RAK) Juang yang handal demi kepentingan pertahanan negara wilayah darat khususnya di wilayah Korem 084/Bhaskara Jaya. Selain itu, di Kota terbesar kedua Indonesia ini Korem 084 / Bhaskara Jaya melaksanakan tugas pokok pengamanan VIP/VVIP terhadap Presiden dan Wakil Presiden RI beserta keluarganya serta tamu negara setingkat kepala negara dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di wilayah Korem 084/Bhaskara Jaya.